Showing posts with label Jateng. Show all posts
Showing posts with label Jateng. Show all posts

Kalahkan Senior


Kejutan juga terjadi di cabang tarung derajat. Atlet muda Ma’ruf Setiawan menyumbang emas untuk Jateng. Di partai final kelas 52,1-55 kg putra, Ma’ruf mengalahkan Angga Purnadita (Sulawesi Selatan). Sukses Ma’ruf tak diperhitungkan sebelumnya.

Selain usianya baru 18 tahun, catatan prestasinya di babak kualifikasi PON kurang meyakinkan. Karena itu, di PON ini dia tidak ditarget muluk-muluk. Namun, hal itu justru mendatangkan keuntungan bagi Ma’ruf karena ia bisa bermain lepas.

Ma’ruf sebenarnya pengganti Edi Eriawan yang mengundurkan diri dari pelatda. Pelatih membawanya ke Riau karena dia dinilai punya mental dan fisik yang bagus. Kepercayaan itu dibayar penuh pemuda asal Sragen tersebut dengan mengalahkan lawan-lawannya yang lebih senior.

’’Di cabang tarung derajat, yang dibutuhkan adalah mental dan fisik yang bagus. Menurut kami, Ma’ruf memiliki dua hal itu untuk menjadi juara. Kesempatannya mengikuti ajang yang lebih tinggi seperti SEA Games sangat terbuka karena usia yang masih muda dan fisik yang ia miliki,’’ kata pelatih tarung derajat Jateng, Cepi Suhendi.

Tarung derajat Jateng berhasil menjadi juara umum setelah mengumpulkan dua medali emas, tiga perak, dan satu perunggu. Satu emas lainnya dipersembahkan Tarjuman yang turun di kelas 55,1-58 kg putra.

Sumber: Suara Merdeka

Semua Petarung Jateng Bawa Pulang Medali

Penyerahan medali cabang Tarung Derajat.
Pertandingan Tarung Derajat pada PON XVIII yang berlangsung di Bengkalis, Riau 2012. Jateng meraih target yang diharapkan untuk bisa menjadi juara umum. Saingan yang dulu sangat mendominasi dalam kejuaraan Tarung Derajat yaitu Jawa Barat tempat olahraga ini  berasal kini tergeser di urutan ke-2.

Jateng meraih juara umum dengan membawa pulang  medali sebanyak 6 medali yaitu 2 medali emas, 3 medali perak dan 1 medali perunggu.

Berikut pencapaian yang diraih Jateng pada PON XVIII 2012 dari 6 atlet Tarung Derajat yang diberangkatkan:

Medali Emas

Kelas 52,1-55 Kg
Ma’ruf Setyawan (Jateng) vs Angga Purnadita (Sulsel)
Dimenangkan  Ma’ruf Setyawan (Jateng)              = 2-1
Kelas  55,1-58 Kg
Tarjuman (Jateng) vs Bernadus Niko (Kaltim)
Dimenangkan Tarjuman (Jateng)                            = KO

Medali Perak

Kelas 49,1-52 Kg
Kuswadi (Jateng) vs Heru Mulyana (Jabar)
Dimenangkan Heru Mulyanan (Jabar)                     =KO
Kelas 61,1-64 Kg
Subagja (Jateng) vs Septian Sapta (Jambi)
Dimenangkan Septian Sapta (Jambi)                        =3-0
Kelas  <52 Kg (Putri)
Weny Ariwati (Jateng)  vs Nur Fajeriah (Kaltim)
Dimenangkan Nur Fajeriah (Kaltim)                         = 3-0

Medali Perunggu
Kelas 52,1-58 Kg (Putri)
Nur Faizah (Jateng)

Perolehan Medali Tarung Derajat
Daerah EmasPerakPerunggu
Jateng 2 3 1
Jabar 1 1 3
Aceh 1 1 2
Bali 1 1 1
Kaltim 1 1 2
Riau 1 0 2
Kalbar 1 0 1
Jambi 1 0 0
NTB 1 0 3
Sulsel 0 1 0
Jatim 0 1 0
Sumut 0 1 0
Sumbar 0 0 3
NTT 0 0 1

Jateng Targetkan Dua Emas


Tim tarung derajat Jateng mengincar dua medali emas lewat dua petarung andalan Subagja dan Tarjuman. Ketua Harian Kodrat Jateng PI Soegiharto menyatakan, target ini berdasarkan hasil Pra-PON lalu. ’’Saat kami berlatih di Perguruan Pusat Tarung Derajat di Bandung, Sang Guru Ahmad Sudrajat menilai dua emas merupakan target yang realistis. 

Di Riau nanti kami lebih mewaspadai faktor non-teknis,’’ kata Soegiharto saat pelepasan tim tarung derajat di Mes Pelatda Jl Guntur, Sabtu (1/9), yang dihadiri oleh Ketua Umum KONI Jateng Soediro Atmoprawiro. Lebih lanjut dikatakan, Tarjuman yang juga mantan petarung SanshouWushu Jateng, bersama Subagja berhasil merebut medali emas dalam babak kualifikasi beberapa waktu yang lalu. ’’Semoga saja tidak ada non teknis yang akhirnya bisa merugikan Jateng. Jika semua berjalan lancar, saya yakin kedua petarung terbaik ini, bisa meraih medali emas,’’imbuhnya. Petarung Putri Lebih dari itu, lanjut Soegiharto, pihaknya tetap berharap pada dua petarung putri yaitu Weni Ariwati dan Nur Faizah menyumbangkan emas. ’’Secara khusus saya meminta mereka mempelajari gaya lawan. 

Sebab saya melihat peluang Weni dan Faizah cukup terbuka asalkan konsentrasi penuh,’’ungkapnya Ketua Umum KONI Jateng Soediro Atmoprawiro meminta agar petarung Jateng siap dengan kondisi yang ada. Misalnya makanan dan situasi tempat bertanding. ’’Dari laporan yang saya dapat, atlet tarung derajat Jateng sangat diperhitungkan. Kalau bisa jangan hanya dua emas, sebanyak-banyaknya bawa pulang,’’ ujar dia.
Sumber: Suara Merdeka

Mental Petarung Jateng Terus Digembleng

Mental atlet Pelatda Tarung Derajat Jateng terus digembleng. Hal ini untuk mematangkan persiapan menuju PON XVIII Riau September mendatang. Pengprov Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jateng mendatangkan psikolog dan motivator untuk meningkatkan motivasi dan semangat para petarung.
Ketua Harian Kodrat Jateng PI Soegiharto mengatakan, soal teknik dan kemampuan bertarung atlet Jateng sudah siap dan tidak ada kendala. Namun, semua itu harus diimbangi dengan mental dan semangat bertanding yang tinggi.
"Kedua hal ini harus seimbang dan saling mendukung. Kemampuan bertarung bagus tidak diimbangi mental yang kuat akan percuma. Begtu juga sebaliknya," kata Soegiharto Minggu (5/8).
Dijelaskan, selain mengapliksikan teknik dan jurus baru yang didapat dari perguruan pusat, persiapan saat ini difokuskan pada non teknis. "Kami lebih menekankan pada jaga kondisi pada puasa ini. Jika dipaksakan pada teknik dan fisik, dikhawatirkan akan berdampak kurang bagus pada atlet seperti cedera atau kondisi yang drop," papar pria yang berprofesi sebagai pengacara ini.
Soegiharto mengatakan, saat ini latihan hanya bersifat pematangan saja bukan pembentukan lagi. "Ya itu tadi, lebih dititik beratkan pada penggemblengan mental dan semangat saja. Sekarang ini adalah masa krusial bagi atlet untuk jaga kondisi,
sehabis puasa memang kondisi fisik pasti menurun," ungkap dia.
Untuk itu, kata dia, waktu cuti lebaran atlet terpaksa diperpendek. "Kami hanya memberikan waktu cuti hanya tiga hari. Setelah lebaran, kami membuat program untuk mengembalikan kondisi tubuh seperti semula," ujar Soegiharto.
Pelatih Tarung Derajat Jateng Madi Sudrajat menambahkan, selain peningkatan mental pihaknya juga memberikan trik baru dalam bertanding. "Trik baru ini ditekankan pada penyiasatan pukulan saat bertanding nanti," jelasnya.


Sumber : Suara Merdeka

Jauh dari Keluarga

Berada jauh dari keluarga terkadang terasa berat. Namun demi meraih prestasi dan membela Jateng di arena PON XVIII Riau September mendatang, ia rela meniggalkan suami dan anak beberapa waktu. Itulah yang dirasakan oleh Weny Ariwati, atlet pelatda PON Jateng Tarung Derajat. Weny, panggilan kesehariannya, harus meninggalkan Zudan Khafidz, buah hati dari pernikahannya dengan Musta'im.
Meski terasa berat, namun Weny merasa sebagai atlet Jateng harus siap memberi yang terbaik untuk daerahnya. "Suami dan anak justru aku jadikan penyemangat untuk meraih prestasi. Jauh daru keluarga harus bisa meraih prestasi setinggi mungkin," tandas wanita pemilik tinggi badan 164 dengan berat 48 kg ini. Ia bertekad meraih emas di PON yang akan datang. 
PON XVIII Riau kali kedua Weny terpilih mewakili Jateng. Pada PON 2008 di Kaltim lalu, ia berhasil menyabet medali perak. Kesempatan kali ini tak ingin disia-siakan untuk meraih emas. Ini kesempatan yang tak bisa dilewatkan," tandas petarung yang tergabung di Satlat Temanggung ini
 Keyakinan Weny ini didapat setelah ditempa baik secara teknik, fisik, dan mental di pemusatan latihan. Ia merasa kondisi puncak, sehingga siap untuk berlaga di PON Riau. Selain itu, ia memotivasi diri. Putri dari pasangan Rumadi dengan Naryati ingin mempersembahan medali yang ia peroleh untuk Jateng, pelatih, pengurus Kodrat Jateng, dan keluarganya.
"Yang terpenting sekarang ini konsentrasi penuh menghadapi PON. Jika kangen dengan keluarga, aku cukup telpon agar tahu keadaan Zudan dan suami," tutur Weny yang juga hobi memasak. Dukungan keluarga bagi dia sangat penting dan mampu memberi semangat tersendiri. Ia merasa bersyukur suami anaknya mendukung kiprahnya di Tarung Derajat.
Ia ingin menjadikan PON XVIII Riau sebagai moment yang tak terlupakan. "Aku mengenal Tarung Derajat sejak 2004. Sejak itu aku ingin berprestasi setinggi mumgkin. PON nanti Insya Allah bisa dapat emas," tukasnya.

Peraih Medali pra PON Balikpapan 2011


Setelah lama tida posting pada blog ini, baru kali ini saya psoting lagi maaf sebeumnya karena sudah jarang aktif. Postingan kali ini cuma mau kasih tahu beberapa nama atlet Tarung Derajat Jateng yang meraih medali pada babak kualifikasi PON yang berlangsung di Baalikpapan Desember tahun lalu. Berikut nama-nama atletnya berurutan berdasarkan raihan medali: 

Medali Emas
Arju kelas <49 kg.
Subagja kelas 64,1-67 kg.

Medali Perak
Weni Ariwati kelas <52 kg putri.
Noer Faizah A. kelas 52,1-58 kg putri.

Medali Perunggu
Edi Irwanto kelas 49,1-52 kg.
Kuswandi kelas 52,1-55 kg.

Jateng Harus Puas di Urutan Ke-2


Melihat dari hasil kejuaraan babak pra kualifikasi PON yang digelar pada tanggal 16-18 Desember tahun ini di Balikpapan, Kalimantan Timur. Jateng harus berpuas diri menempati juara umum ke-2 setelah juara umum diraih oleh Tim Jabar. Tim Jabar memang cukup sulit untuk ditaklukan, selain karena pusatnya olahraga ini Jabar juga memiliki atlet-atlet yang sangat potensial untuk menjuarai di setiap kejuaraan tingkat nasional.

Jabar memimpin dengan meraih sebanyak 4 medali emas dan 1 medali perunggu. Tim rivalnya Jateng menempati juara umum ke-2 dengan meraih medali sebanyak 2 emas, 2 perak dan 2 perunggu dimana semua medali itu diraih dari kelas tarung sedangkan kelas seni gerak tidak membawa hasil apa-apa dan tidak bisa ikut serta dalam ajang olahraga empat tahunan yaitu PON 2012 yang akan digelar di Bengkalis, Riau. Kedua medali emas dipersembahakan oleh Andre Subagja kelas 64,1-67 kg dan emas yang satu lagi dipersembahkan oleh Tarjuman kelas 55,1-58 kg.

Dari hasil babak pra kualifikasi PON tersebut Jateng masih mempunyai banyak kesempatan untuk mengalahkan tim rivalnya Jabar pada PON mendatang karena cukup banyak atlet yang lolos terkecuali tim seni gerak.

Petarung Dijanjikan Bonus


Untuk menambah motivasi petarung, pengurus Keluarga Besar Tarung Derajat (Kodrat) Jateng menyiapkan bonus bagi petarung yang meraih medali pada Pra-PON XVIII di Balikpapan 15-18 Desember.
Ketua Umum Kodrat Jateng Putut Sutopo menyampaikan hal itu, Minggu (11/12) malam, dalam acara pelepasan kontingen di rumah makan Ikan Bakar Cianjur, kawasan Kota Lama, Semarang. Selain atlet dan pelatih, acara dihadiri Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Jateng Soedjioto, dan Ketua Harian Kodrat PI Soegiharto.
Putut menyebutkan, petarung peraih medali emas akan mendapat satu unit sepeda motor, perak mendapat Rp 5 juta, dan perunggu Rp 3 juta. Bonus juga akan diberikan kepada pelatih. "Ini sebagai penambah semangat saja bagi atlet. Semoga motivasi mereka bisa meningkat sehingga Jateng banyak meloloskan petarung sebanyak-banyaknya ke PON," katanya.
Putut yakin dengan persiapan yang sudah dilakukan lama, petarung lebih siap secara teknik dan fisik. Ia juga berpesan kepada atlet agar tidak terlalu menganggap berat petarung dari Jabar, yang selama ini selalu mendominasi di berbagai kejuaraan nasional. "Saya melihat raut muka atlet semunya sudah siap bertarung.
Mental mereka juga sudah tertata bagus karena latihan intensif dan uji coba yang dilakukan selama ini. Saya minta agar petarung pantang menyerah," tandasnya.
Pada Pra-PON ini, Jateng menurunkan 13 atlet, tiga pelatih, satu manajer, dan satu ofisial. 13 atlet tersebut terdiri atas tujuh petarung putra, dua petarung putri, dan empat atlet seni gerak. Mereka akan turun di 10 nomor yang dipertandingkan.
Pelatih Kepala Heru Hermawan mengatakan pelatihan yang dilakukan di Mess Pelatda Jalan Guntur No 3 Gajahmungkur Semarang berjalan intensif. Sepanjang mengikuti Pelatda, petarung menunjukkan kemajuan yang signifikan.
"Mereka sudah dipersiapkan dengan latihan keras. Dari berbagai uji coba bisa dilihat beberapa daerah seperti Jabar, Sumbar, dan Aceh harus diwaspadai. Begitu juga dengan tuan rumah Kaltim," katanya.
Sementara Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Jateng, Soedjioto, berharap tarung derajat bisa melanjutkan tren positif cabang olarhaga di Jateng yang meloloskan atletnya ke PON. ''Kami berpesan agar semua atlet dan ofisial menjaga sportivitas ketika bertanding,'' katanya.

Atlet Jateng Fokus pada Teknik

Sebelum diberangkatkan ke Pra-PON di Bengkalis, 16-18 Desember mendatang, atlet tarung derajat Jateng akan di fokuskan latihan teknik.

Ketua Harian Keluarga Besar Tarung Derajat (Kodrat) Jateng PI Soegiharto menegaskan, 14 atlet saat ini terus dilatih terpusat di Mess Pelatda Tarung Derajat Jateng, jalan Guntur No 3 Gajahmungkur, Semarang.

Dikatakan, dari hasil try out dan try in yang telah dilakukan, pihaknya optimis bisa menorehkan prestasi. Apalagi dari hasil evaluasi try out di Jabar belum lama ini, pengurus mengaku puas atas hasil yang dicapai para petarung.

"Secara umum kami telah siap mengikuti babak kualifikasi. Tanggal 16 Desember, 14 atlet, tiga pelatih, satu manajer dan satu offisial akan kami berangkatkan," tegasnya.

Dua Emas

Di Pra-PON sendiri, PI Soegiharto yang juga Ketua DPD Asosiasi Advokad Indonesia (AAI) Jateng optimis bisa meloloskan petarung sebanyak-banyaknya ke PON. Sementara di PON, Jateng menargetkan bisa membawa pulang dua medali emas. "Kelas yang kami incar adalah kelas 67 kg hingga 70 kg," akunya.

Ditambahkan, upaya untuk bisa merebut dua emas di PON XVII/Riau 2012, menurutnya akan sedikit berat. Apalagi banyak nomor andalan Jateng yang tidak dipertandingkan. Target realistis, ingin memperbaiki prestasi di PON ke XVII 2008. Pada pagelaran event empat tahunan di Kaltim, kontingennya hanya mampu membawa pulang tiga medali perak, dan tiga perunggu.

Kodrat Semarang Siapkan Petarung ke Kejurda Yunior


Keluarga Tarung Derajat (Kodrat) Kota Semarang, saat ini sedang menyiapkan beberapa petarung yunior untuk mengikuti Kejurda Yunior Jateng 2012. Rencananya, kejuaraan tingkat yunior dan prayunior yang diselenggarakan Kodrat Jateng tersebut, akan dilaksanakan bulan Februari atau Maret 2012.
Heru Sudjatmiko, pelatih kepala Tarung Derajat Kota Semarang ketika ditemui mengatakan, meski pelaksanaan kejuaraan masih cukup lama, pihaknya akan menyiapkan petarung jauh-jauh hari. Apalagi pengurus Kodrat Kota Semarang memiliki target menjadi juara umum di event tersebut.
"Untuk persaingan, Magelang masih kami waspadai. Karena perkembangan olahraga tarung derajat di sana maju cukup pesat. Apalagi banyak potensi muda potensial yang lahir dari sana," paparnya.
Di Kejurda Yunior, ada beberapa kelas dari kelompok umur yang akan dipertandingkan. Di antaranya kelompok usia SD (9-12 tahun) SMP (13-15 tahun) dan SMA (15-17 tahun). Kodrat Semarang, akan menyiapkan petarung sebanyak-banyaknya untuk dikirim ke event ini. Khususnya petarung usia SD dan SMP.
Apalagi potensi atlet yunior Semarang bisa dikatakan lebih banyak dibanding daerah-daerah lain. "Setelah mendapatkan informasi dari Kodrat Jateng, kami segera menginventarisir nama-nama petarung yunior yang tergabung di Satlat. Selanjutnya akan kami seleksi guna dikirim ke kejurda," tegasnya.
Ketika ditemui beberapa waktu lalu, Ketua Harian Kodrat Jateng, PI Soegiharto mengatakan, pihaknya memang sedang menyiapkan program kejuaraan tingkat yunior. Apalagi di beberapa daerah, prestasi petarung yunior menunjukkan grafik positif. Tidak hanya di kelas yunior, di kelas prayunior juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Setidaknya, ada puluhan atlet prayunior yang selalu tampil di setiap event. Maka untuk itu, PI Soegiharto yang juga Ketua DPD Asosiasi Advokad Indonesia (AAI) Jateng itu berencana menggelar kejuaraan rutin tahunan khusus untuk atlet prayunior dan yunior.
Sumber: Suara Merdeka

Kodrat Jateng Kirim 13 Atlet


Kodrat Jateng memastikan hanya akan mengirim 13 atlet di Pra-PON XVIII Riau 2012. Setelah mendapatkan kepastian, bahwa kualifikasi PON akan dilaksanakan mulai tanggal 2-4 Desember 2011 di Balikpapan, pengurus segera memantapkan rencana dengan memastikan atlet yang akan diberangkatkan. Disampaikan PI Soegiarto, ketua harian Kodrat Jateng, 13 atlet yang akan dikirim sudah disiapkan semaksimal mungkin. "Sebelumnya ada sekitar 17 atlet yang kami kumpulkan di Pelatda. Akhirnya kami pastikan mengirim 13 atlet saja. 13 atlet tersebut terdiri dari tujuh atlet tarung putra, dua atlet tarung putri dan empat atlet seni gerak. Meski ada pengurangan nomor pertandingan, kami tetap optimis bisa mencuri setidaknya dua medali emas," tegas Ketua DPD Asosiasi Advokad Indonesia (AAI) Jateng itu.
 
Terpisah dari itu, Madi Sudrajat Pelatih Pelatda Pra-PON Tarung Derajat Jawa Tengah menambahkan, jelang pelaksanaan Pra-PON pihaknya optimis bisa meloloskan atlet sebanyak-banyaknya. Apalagi 13 atlet yang disiapkan, memiliki peluang cukup besar untuk lolos, atau setidaknya masuk empat besar di babak kualifikasi. "Rival yang mungkin paling berat adalah Jawa Barat dan Jambi. Namun kami optimis bisa meloloskan atlet sebanyak-banyaknya, karena target kami di PON adalah membawa pulang medali emas," tandasnya.

Jateng Dirugikan Pengurangan Kelas Tarung Derajat

Tim Tarung Derajat Jateng Kejurnas Tahun 2010

Dari informasi yang diterima Pengprov Keluarga Olahraga Tarung Drajat (Kodrat) Jateng, di PON Riau tahun 2012 nanti cabang olahraga tarung derajat hanya akan mempertandingkan 10 nomor saja. Maka untuk itu, jumlah medali emas yang diperebutkan pada PON XVIII itu pun akan berkurang sembilan medali dibanding PON sebelumnya.

Padahal pada PON XVII/Kaltim tahun 2008 dan terakhir di Kejurnas di Bengkalis Riau Desember 2010 lalu, ada 19 nomor yang dipertandingkan. Ketua Harian Pengprov Keluarga Olahraga Tarung Drajat (Kodrat) Jateng, PI Soegiarto mengatakan, ada beberapa hal yang melatarbelakangi pengurangan nomor di PON 2012 nanti.

Info yang dia terima, pengurangan nomor itu dilakukan PB PON karena persoalan anggaran penyelenggaraan ajang multieven tersebut. Di mana banyak pengurangan nomor untuk efisiensi biaya.

"Selain itu di beberapa kelas yang tidak dipertandingkan, kekuatan tarung derajat memang belum merata di setiap daerah. Khususnya di wilayah timur. Maka hanya kelas yang telah merata saja yang dipertandingkan," paparnya ketika ditemui baru-baru ini.

Diakui Soegiarto, pengurangan kelas tersebut cukup merugikan bagi kontingen Jateng. Pasalnya dari sembilan kelas yang dihapus, di antaranya merupakan nomor andalan Jateng untuk merebut medali emas.

“Di Kejurnas Tarung Drajat di Bengkalis Riau Desember 2010 lalu, kami mendapat tiga medali emas, empat perak, dan lima perunggu. Dari tiga medali emas yang kami peroleh, dua di antaranya adalah kelas yang dihilangkan di PON 2012 mendatang,” ujarnya.

Kelas Seni Gerak

Bahkan dengan pengurangan kelas tersebut, Kodrat Jateng tidak berani memberi target terlalu tinggi di PON XVIII/Riau 2012 mendatang.

“Di Kejurnas 2010, peta sudah terlihat di mana kita hanya kalah dari Jabar yang mendapat empat medali emas. Tapi dengan pengurangan sembilan kelas, peta berubah dan kami tidak bisa memasang target terlalu tinggi. Target kita hanya mencuri medali emas, dari 10 yang diperebutkan. Di PON 2008 Kaltim, kami hanya dapat satu perak dan satu perunggu,” tambahnya.

Sementara Madi Sudrajat, pelatih Pelatda Pra-PON tarung derajat Jateng mengatakan, 10 kelas yang dipertandingkan di PON 2012 nanti, untuk putra yaitu kelas 49-52 kg, 52-55 kg, 55-58 kg, 58-61 kg, 61-64 kg, 64-67 kg, 67-70 kg. Sementara untuk putri hanya dua kelas, yaitu kelas 52 kg ke bawah dan kelas 52-58 kg saja. Serta satu kelas seni gerak.

"Kelas yang dihilangkan di putra yaitu 49 kg ke bawah, 70-75 kg, 75-80 kg, 80-85 kg serta 85 kg ke atas. Sementara untuk putri 58 ke atas. Di kelas seni gerak, dari dua yang dipertandingkan di PON 2008, di PON Riau nanti hanya satu kelas saja yang dipertandingkan," tandasnya.

Kualifikasi Pra PON cabor tarung drajat baru akan dilaksanakan Desember 2011, di Balikpapan Kaltim. Di even tersebut, tim Jateng akan berusaha meloloskan atlet di semua nomor yang dipertandingkan.

Sumber : Suara Merdeka

Zulkifli Hasan Salut Perkembangan Tarung Derajat Jateng


Ketua Umum PB Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Zulkifli Hasan mengaku salut atas perkembangan prestasi tarung derajat di Jateng yang mampu meraih runner up kejurnas di Bengkalis Riau Desember 2010.

Dia berharap prestasi itu bisa terus dikembangakan agar Jateng juga termasuk barometer pembinaan tarung derajat di Indonesia. Hal itu disampaikannya usai melantik Pengprov Kodrat Jateng periode 2010-2014 di Hotel Dafam, Senin (7/2). "Kami berharap Jateng bisa meningkatkan prestasinnya. Jika saat ini menjadi runner up ke depan harus bisa menjadi juara umum," katanya.

Zulklfli juga mengatakan, tarung derajat akan diupayakan menjadi cabang internasional. Tahap awal ini, olahraga asli Jabar tersebut akan dieksibisikan dalam SEA Games 2011 saat Indonesia menjadi tuan rumah. Para pelatih Jateng pun ditawari untuk melatih di berbagai negara ASEAN seperti Thailand, Singapura, atau Timor Leste.


Sementara itu ketua umum Kodrat Jateng Putut Sutopo menyatakan keoptimisannya menyongsong PON 2012. Hasil Kejurnas tahun lalu akan dijadikan modal sekaligus bisa memotivasi atlet menghadapi babak kualifikasi PON yang akan digelar Desember tahun ini di Kaltim. "Saya percaya kemampuan anak-anak. Mereka sudah membuktikan pada Kejurnas lalu," kata Grand Manajer (GM) PSIS itu.

Mengenai permintaan PB untuk mengirimkan pelatih Jateng guna melatih di luar negeri, Putut belum bisa memenuhinya. Pasalnya para pelatih itu akan dikonsentrasikan melatih atlet Jateng menghadapi babak kualifikasi PON dan PON 2012.

Ketua Harian Kodrat Jateng PI Soegiharto menambahkan menghadapi babak kualifikasi PON, Jateng mempersiapan 21 petarung. Mereka saat ini menjalani pelatda di Jalan Guntur No 3 Semarang. Target yang dicanangkan yaitu meraih minimal sama seperti kejurnas lalu yang menyabet tiga emas dan empat perak.

"Di PON nanti kami memperkirakan lima nomor baik putra mau pun putri berpeluang merebut emas. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan peluang itu dengan persiapan serius," katanya.

PI menyebut daerah yang diperkirakan menjadi pesaing Jateng tentunya Jabar. Meski begitu daerah lain seperti Kaltim dan Riau tidak boleh dipandang enteng.

Emas Pertama Kejurnas


KEJURNAS Tarung Derajat di Bengkalis Riau awal bulan ini rupanya menjadi even membanggakan bagi atlet tarung derajat Semarang Sucipta Rasa. Ya, pada kejuaraan nasional itulah, dara kelahiran 10 April 1986 itu mampu meraih emas. Itulah emas pertamanya sepanjang mengikuti berbagai turnamen nasional.
"Saya sangat puas atas hasil kejurnas ini. Semoga hasil ini bisa memotivasi saya untuk mempertahankan prestasi dalam even-even selanjutnya," kata alumnus Pendidikan Sejarah Unnes ini.
Gadis dengan tinggi badan 156 dan berat 46 kg ini dalam kejurnas itu meraih emas di nomor rangkaian gerak putri. Selain meraih emas, dia juga meraih perak di nomor gerak tarung beregu putri. Hasil itu dianggapnya cukup membanggakan karena bisa membawa nama harum Jateng di tingkat nasional.
Jateng sendiri dalam kejurnas itu meraih tiga emas dan tampil sebagai runner up pengumpul medali terbanyak di bawah Jabar yang menyabet empat emas.
"Saya semakin tertantang untuk terus meningkatkan kemampuan saya. Target terdekat ini tentunya bisa lolos babak kualifikasi PON tahun depan," kata peraih emas Porprov untuk kontingen Semarang itu.



Jadi Pelajaran
Sucipta bertekad bisa menebus di PON 2012/Riau mendatang sekaligus membawa pulang medali emas. Kegagalan di PON 2008 lalu menjadi pelajaran berharga baginya. Selain terus meningkatkan kemampuan teknik, dia terus banyak menimba pengalaman bertanding untuk mengasah mental.
"Saya sekarang sudah tenang karena beban kuliah sudah tidak ada. Saya sudah lulus kuliah.  Dengan begitu saya bisa berkonsentrasi latihan. Ini terbukti dalam kejurnas kemarin saya bisa meraih hasil maksimal karena bisa latihan tanpa beban," katanya.
Sucipta merasakan enjoy menggeluti olahraga asli Indonesia itu. Gadis kelahiran Magelang itu beranggapan, menggeluti tarung derajat akan membawa berkah bagi dirinya. Maklum, olahraga ini tentunya masih sedkit peminat sehingga peluang untuk juara terbuka lebar.
”Saya tidak malu menggeluti tarung derajat. Awalnya, sekadar coba-coba justru malah mendatangkan prestasi,” kata mantan anggota Menwa Unnes ini.
Sucipta sebenarnya bukan atlet asli Semarang. Gadis ramah dan bersahaja itu merupakan warga Magelang yang menyatakan pindah ke Semarang. Kiprah pertamanya di kejuaraan resmi yaitu pada 2007 dalam Piala Presiden. Di kejuaraan itu, dia memang tidak mendapatkan medali.
Tetapi di tahun yang sama gadis mungil itu meraih perak dalam babak kualifikasi PON 2008. Sayang di PON 2008 ia gagal membawa pulang medali.

Video Latihan Tim Seni Gerak Tarung Putra Putri Jateng

 

Video Tim Tarung Derajat Jateng ketika berlatih gerak tarung beregu putra putri sebelum berangkat ke Bengkalis - Riau. Mereka berlatih setiap hari dan selalu tampil di depan orang banyak, bahkan dari anggota sendiri banyak yang mensoraki ketika berlatih untuk menguji mental mereka.
Dengan semangat dan kerja keras serta mental sekuat baja, mereka cuma mandapatkan Medali perak di ajang Kejurnas Tarung Derajat Tahun 2010 di Bengkalis- Riau meskipun ada beberapa atlet yang baru terjun di kejurnas ini. Ini merupakan awal yang membanggakan. Semoga Tim Jateng bisa meraih Juara I pada Kejurnas berikutnya.

Pelajaran Berharga dari Kejurnas


Kejurnas tarung derajat Piala Presiden di Bengkalis Riau yang berakhir pekan lalu rupanya  menjadi pelajaran berharga bagi atlet Semarang Ragil Titisari. Ya, medali perak yang diraih memang belum sesuai harapan karena target sebelumnya memang membawa pulang medali emas.
Namun ada hal penting yang perlu dipetik dari kejuaraan tingkat nasional itu, bahwa Ragil harus bersiap lebih baik lagi dalam menghadapi kejuaraan setingkat nasional.
"Dibilang kecewa saya kecewa. Tetapi saya tidak larut dalam kekecewaan itu apalagi menjadikan putus asa. Saya harus berlatih lebih giat lagi untuk kejuaraan mendatang," kata wanita kelahiran 21 Agustus 1987 itu.
Hal positif yang perlu dipetik dari kejurnas itu, menurut mahasiswa Unnes itu bahwa dirinya harus memiliki rasa optimistis dan berfikiran positif. Artinya bahwa rasa percaya diri harus ditanamkan kepada dirinya untuk bertanding menghadapi para atlet terbaik di Indonesia.
Dalam kejurnas itu, wanita yang tinggal di Jalan Banowati Tengah V/29B Bulu Lor Semarang Utara ini meraih perak setelah dalam partai final nomor tarung wanita di kelas 52,1-58 kg kalah dengan Riza, petarung NTB.
"Saya harus mengakui lawan ternyata lebih baik. Ini menjadi pelajaran saya untuk menyiapkan fisik dan mental dalam mengadapi kejuaraan setingkat nasional," kata pemilik tinggi badan 170 cm dan berat 53 kg itu.

Terlanjur Senang
Mahasiswa tingkat akhir di jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan Unnes ini mengaku senang menekuni olahraga asli Jawa Barat itu.  Alumnus SMA Muhammadiyah Kendal ini tak merasa takut akan tubuh luka karena tendangan mau pun pukulan. "Saya sudah terlanjur senang dengan tarung derajat. Jadi kejurnas ini bukan muara akhir. Saya harus bersiap menghadapi babak kualifikasi PON tahun depan," katanya.  
Ragil merupakan salah satu andalan Semarang. Selain meraih emas Porprov 2009, pada Kejurda 2010 dia meraih emas. Peluang masuk tim PON pun di depan mata karena untuk Jateng belum ada tandingan sepadan di kelasnya.
Meski demikian, Ragil masih menyimpan penasaran. Pasalnya gadis murah senyum itu gagal tampil di PON 2008 lantaran tidak lolos babak kualifikasi. ”Kegagalan di Pra-PON itulah yang membuat tekad saya untuk menjadi yang terbaik.  Saya harus terus berlatih untuk mewujudkan ambisi," katanya.
Ambisi yang dipendam Ragil tentunya bisa tampil di PON 2012. Tentu saja dia tak ingin sekadar tampil. Lebih dari itu medali emas tentunya menjadi bidikannya.

Sumber: Suara Merdeka

Awal yang Baik dari Kejurnas di Bengkalis


Tampil kali pertama dalam kejuaraan nasional menuai hasil tidak mengecewakan. Prestasi tersebut sangat membanggakan atlet tarung derajat Semarang, Eko Satrio Putro . Dia meraih medali perak di nomor seni tarung gerak beregu atas nama Jateng dalam dalam kejurnas di Bengkalis, Riau, pekan lalu.

Bagi atlet kelahiran 5 Maret 1984 ini, medali perak sudah menjadi catatan prestasi yang membanggakan, mengingat dia termasuk pendatang baru dalam percaturan tarung derajat nasional.

Anggota TNI dari Yon Arhanudse15 Semarang ini mengaggap hasil di level nasional itu merupakan awal bagus untuk menapak kejuaraan selanjutnya.
Hasil di Bengkalis merupakan wahana penting untuk mengukur kemampuan lawan dan dirinya, sebelum turun ke babak kualifikasi PON 2012.

”Ke depan saya berupaya lebih baik lagi. Targetnya bisa tampil di PON 2012 di Riau,” kata pria berpangkat parjurit satu itu. Perunggu Hal lain yang membuat pria dengan tinggi badan 167 cm dan berat 57 kg ini bangga adalah, sebelumnya dari berbagai kejuaraan, dia hanya mampu merebut medali perunggu. Padahal level kejuaraan yang diikuti sebelumnya lebih rendah, yaitu kejurda, Porprov, dan Porwakos.

Di Porwakos 2008, suami dari Puji Rahayu Utri ini meraih perunggu di nomor tarung. Kemudian dalam Kejurda 2009 kebagian perunggu nomor seni gerak beregu putra. Prestasi yang sama diraih dalam Porprov 2009 atas nama Semarang.

Eko sebanarnya bukan warga asli Semarang. Sejak 2006, pria asli Makassar ini bertugas di Yon Arhanudse, sehingga menetap di Ibu Kota Jateng ini.  Bahkan saat ini dia beristrikan orang Semarang.
Dengan begitu sudah tidak diragukan lagi kecintaanya terhadap daerah barunya. Terbukti dia telah memberi kontribusi prestasi terhadap Kota ATLAS ini.

”Prinsip saya, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Saya  siap membela Semarang dan Jateng di tingkat nasional,” kata pria yang tinggal di asrama Yon Arhanudse, Jatingaleh itu.

Semangat berlatih Eko saat ini berlipat. Hasil kejurnas menujukkan dia mampu berprestasi di ajang nasional. Selanjutnya dia bertekad bisa mewakili Jateng dalam PON 2012. Tahap pertama tentunya bisa lolos babak kialifikasi PON tahun depan.

Trio Semarang Berhasil Membawa Pulang Medali

Ragil, Eko, dan Sucipta dengan medalinya.
Akhirnya Tim Tarung Derajat Jateng tidak pulang dengan tangan hampa setelah selesai bertanding dalam event Kejuaraan Nasional Tarung Derajat Tahun 2010 yang di Bengkalis Riau. Jateng menempati juara umum ke -2 setelah Jabar dengan memperoleh medali sebanyak 3 emas dan 4 perak. Sedangkan Jabar membawa pulang medali sebanyak 5 emas dan 6 perunggu.

Seperti yang sudah terdapat pada postingan sebelumnya, bahwa ada beberapa atlet Jateng yang diwakili oleh atlet-atlet dari Kota Semarang. Yang pertama yaitu Ragil Titisari  yang turun dalam kelas tarung bebas putri kelas 52,1-58 kg, dia telah berhasil membawa pulang medali perak stelah dia gagal memenangkan pertandingan pada partai final. Kedua, Eko Satrio P. yang turun dalam nomor Seni Gerak Tarung Beregu Putra-Putri, Eko berhasil membawa pulang medali perak. Meskipun merupakan debut awalnya dalam kejurnas tetapi dia tetap yakin akan kemampuannya dalam meraih juara karena selama ini dia telah berlatih keras. Ketiga, Sucipta Rasa yang turun pada nomor Seni Gerak Tarung Putra-Putri (SGTPP) dan Rangkaian Seni Gerak Putri (RSGP). Dia berhasil memborong dua medali sekaligus yaitu emas di nomor SGTPP dan meraih medali perak di nomor RSGP.

Berkat kegigihan mereka kini Kota Semarang semakin yakin dengan kemampuan serta keberhasilan yang telah diraihnya dan semoga bisa menjadikan contoh kepada para anggota yang lain untuk bisa mewakili Jateng pada pra-PON dan Kejurnas berikutnya.

Yoga Mundur dari Pelatda Tarung Derajat


Salah satu atlet tarung derajat (petarung) Semarang Yoga Prasetya mundur dari Pelatda Jateng untuk persiapan Kejurnas Piala Presiden, pada Desember. Alasan pengunduran dirinya karena atlet yang bersangkutan diterima bekerja di sebuah instansi.

Pelatih tarung derajat Semarang Heru Sudjatmiko mengatakan, dengan mundurnya atlet yang berlatih di Satlat Kodim 0733 BS/Semarang itu, berarti Semarang kini tinggal menyisakan tiga petarung yang bertahan di Pelatda. Mereka adalah Ragil Titi Sari, Sucipta Rasa, dan Eko Satria.

“Saya tidak bisa melarang atlet kami mundur dari Pelatda. Terlebih alasannya adalah urusan pekerjaan. Bukan kami tidak loyal pada Jateng tetapi ini keinginan atlet yang bersangkutan,” katanya.

Meski mundur dari Pelatda persiapan Kejurnas, Heru memastikan Yoga tidak mundur dari kegiatan tarung derajat. Latihan rutin tetap dilakukan untuk persiapan berbagai kejuaraan. Termasuk pada babak kualifikasi PON tahun depan, Yoga siap bersaing.

“Saat ini, Yoga belum bisa izin ke luar kota karena urusan pekerjaan. Namun latihan tetap dijalani untuk persiapan berbagai kejuaraan,” katanya.

Menurut Heru, meski Semarang menyisakan tiga petarung, tetapi Ibu Kota Jateng itu tetap mendominasi atlet. Hal ini berarti prestasi tarung derajat Semarang di tingkat Jateng masih diperhitungkan.


Sumber: Suara Merdeka